Kalo kita ngomong masalah minoritas dan mayoritas, pasti ga ada habisnya, ibarat kuku, kalo dipotong tumbuh lagi. Ibarat air, selalu ada siklus dan tidak akan berhenti. Ibarat Obama, itu artis iklan salah satu Universitas Indie Indonesia.
Minoritas atau Mayoritas bukanlah permasalahan besar, yang
justru sering jadi masalah adalah pola pikir individu, ada yang selalu
mengagung-agungkan mayoritas, ada yang selalu minder jadi minoritas, ada yang
kalo cebok selalu pake kertas, jorok,
apalagi kertas bungkus bekas tahu telor, pedes-pedes amis. Hih!
Tapi untungnya kehidupan minoritas saya selalu berada
dilingkungan yang orang-orangnya bisa berpikiran terbuka, bahkan beberapa ada
yang rela selangkangannya terbuka demi sesuap nasi, inikah Indonesia yang kita
banggakan?
Saya sempat bersekolah di Malang, tepatnya di SDN Lowokwaru
VII, pada waktu itu yang menjabat sebagai kepala sekolah adalah ibu Hj.Rottein,
dengan tukang kebun bernama pak Sis, hobby tukang kebun tersebut cukup aneh,
suka mengejar anak-anak sambil berusaha menutup hidung anak tersebut dengan
tangan bekas ngelap ketiak yang berkeringat. Anak yang sering jadi korban
bernama Shandy, cowok tentunya. Ini nyata, kalo ada yang kenal temen SD saya
bisa ditanyakan langsung.
Di SD tersebut saya belum mengenal apa itu minoritas dan
mayoritas, saya hanya mengenal cara bertahan dengan uang 2000 rupiah dimana
harga frutang orange sudah mencapai
seribu rupiah pada waktu itu. Naas.