Sabtu, 13 Juli 2013

#RamadhanBercerita3 PersaMinoritas #1



Terkadang menjalani kehidupan sebagai minoritas itu melelahkan, namun menjalani kehidupan sebagai mayoritas ternyata justru membosankan, apalagi menjalani hidup sambil makan kolak pisang dari hidung dan anus. Susah. 

Saya pernah menjalani hidup sebagai mayoritas di Bali dan tidak ada yang menarik, semua sama, tidak ada tantangan dalam hidup sedikitpun. Rasa penasaran tentang perbedaan tidak akan pernah bisa terjawab. Apa yang saya lihat adalah apa yang ada didalam diri saya, kecuali Tetek perempuan, karna kebetulan saya ga punya, punya sih, tapi Gede sebelah. Mau liat? Vaksin Alzheimer dulu.

Satu warna berada dalam satu bentuk kehidupan tidaklah menarik, harus ada warna beda yang mengisi, sehingga akan lebih terlihat hidup dan menggairahkan. Ibarat Lingerie celana dalam garis-garis hitam putih akan lebih sexy daripada warna putih, ber-renda dan bau.  

Ngomong-ngomong, saya belum ganti celana dalam dari kemaren.


Anyway, pentingnya ada warna lain akan bisa tercermin dari kehidupan seputar jaman SD saya dulu yang lumayan menyenangkan sekaligus tragis. Kenapa? Karena hampir setiap hari saya berusaha kabur dari pertanyaan guru-guru tentang bagaimana itu Bali, mungkin satu level dengan kondisi Ariel ketika diberondong pertanyaan Bagaimana masa depannya dengan Luna Maya setelah kasus video yang Kontroversial, Sensual dan Menjual tersebut.

Dulu sewaktu SD, murid-murid diwajibkan untuk ikut Pramuka yang sebenarnya, saya sendiri tidak mengerti visi dan misi dari pramuka. Diajarkan cara bertahan hidup dengan sebuah tongkat dan segulung sumbu kompor putih tidak akan pernah memajukan pola pikir anak SD di Era Millenium.

Dengan terpaksa akhirnya saya mengikuti kegiatan megalitikum-sasian tersebut. Sempat bolos beberapa kali dari jadwal latihan dan berakhir dengan berdiri satu kaki didepan kelas. Menggenaskan. 

Suatu waktu Pembina pramuka memberitahukan murid-murid bahwa akan diadakannya Persami, perkemahan sabtu minggu. Saat itu saya dan teman-teman girang, pada akhirnya ilmu-ilmu membuat tiang bendera dari kayu dan tali akhirnya bisa di-implementasikan di era besi sudah merajai pasar tiang bendera. 

Persiapan dan perbekalan yang matang pun sudah disiapkan oleh mama tercinta, setelah memakai bedak Cussons disekujur tubuh saya berangkat ke sekolah untuk kumpul sebelum ke lokasi kemah. Dengan tas penuh Susu Ultra Coklat, Chiki Balls dan Mie Gaga, lengkap dengan tongkat dan tali. saya siap bertahan di alam bebas, walau untuk satu malam. 

Sampai di sekolah sekitar pukul 3 sore, saya dan teman-teman berkumpul didepan gerbang sekolah, sambil pamer kartu Yu-gi-oh dan beyblade baru, kami asyik menggodai murid cewe yang lewat, kadang ada yang suit-suit, ada yang melempar dengan kertas, bahkan beberapa ada yang buka celana dan menamparkan kelaminnya di pipi murid cewe yang lewat, naasnya, diksi menampar lebih tepat diganti dengan menoreh. Karena tititnya kecil dan tajam seperti jarum.

Puas berlagak bagai preman pasar edisi kids. Kami masuk ke dalam area sekolah, upacara untuk persami diumumkan akan segera dimulai. Saya mulai bingung, seharusnya kita sudah berangkat ke lokasi kemah daritadi, saya bertanya pada Shandy.

Rama                     : shan, katanya kemah, kok ga berangkat-berangkat?
 Shandy                 : Persami kita ga kemah diluar, tapi nginep disekolah, trus ada api unggun sama jurit malamnya kata bu Sri.
Rama                     : ………

Pada saat itu juga arti kemah dikepala saya berubah. Kemah yang tadinya saya bayangkan tidur ditemani api unggun, kemerlap sinar bintang dan cerahnya langit malam berubah menjadi tidur didalam kelas ramai-ramai dengan teman kalian dan berusaha bertahan dari bau kaki bekas kegiatan.

Seketika image pramuka dimata saya tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Ibarat kita melihat Cut Tari yang tidak bisa lepas dengan Vidio miringnya, SBY dengan prihatinnya, dan Olga Syahputra dengan V-neck sampai putingnya. 

Dengan segenap perasan dongkol yang menumpuk, saya pun mengikuti upacara pembukaan persami. Selamat dari siksaan sambutan dan urutan acara formalitas lainnya. Kami menuju kelas untuk mempersiapkan tempat tidur dan tempat masak. 

Ya, kami masak didalam kelas. Aneh? Memang. Tapi lebih aneh lagi jika yang memasak adalah kumpulan anak Ingusan berlabel beyblader memasak Indomie dengan kompor minyak, di-iringi bau kaos kaki yang bergentayangan. 

Kebetulan saya mengajukan diri sebagai koki dikelas karena saya sering masak Indomie sendiri, dengan kata lain saya berusaha menyelamatkan nyawa banyak orang dari malpraktik Mie Gaga bila dimasak oleh teman-teman saya…

(to be continue)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar